Malam pekat tak menyurutkanku, untuk tetap berdiam diri. Dua bangku panjang, dari tempatku, bersama tiga temanku. Ku seruput Avocado Chocolat ku, tak lupa ku makan French Fries pesananku. Teman-temanku meikmati sendiri pesanan mereka masing-masing.
Dimana kita? Ya di sebuah tempat tongkrongan asik anak muda saat malam-malam tiba. Sebuah tempat terbuka dengan meja dan kursi kayu. di atas meja masing-masing terdapat sebuah lilin berwadah mangkuk, satu box tisyu, dan wadah putung rokok. Ah biarkan saja toh itu hanya seperti hiasan meja belaka. Kami berbincang setelah melepas penat seusai ujian puisi. Mulai dari perbincangan yang konyol hingga tak masuk akal.
Tiba-tiba salah satu temanku berkata "Ada petir dan seolah Tuhan sedang memotret kita" entah ucapannya yang begitu saja menjadi bagian dari hal yang menarik di sela-sela tongkrongan kita. Sekiranya jadi begini...
Petir
Tuhan memotret semua kedamaian
Diantara temaram lilin pada sebuah mangkuk
Dengan kilatannya
Memotret segala apa yang kami lakukan
Tuhan akan menyimpannya
Sebagai gambaran kami di masa ini
Ketika saat itu tiba,
Tuhan akan menanyakan untuk apa saja waktu yang kami habiskan di masa muda?
Setelah itu kami pulang membawa pikiran masing-masing.
Inspired by: Ovie Andry Anie
Created by: Eva Rafiqoh Utomo
With : D'pebbee Dhwii Wullaanddarii
Posted by: Istiqomah Yuniarti
Facebook.